TANJUNGPINANG – Gubernur Kepri H Nurdin Basirun, mengatakan pihaknya akan menjamin keadilan pendidikan untuk masyarakat Kepri.
Sebagai mana diberitakan tribun.com, tugas pemerintah, kata Nurdin, menyediakan sarana dan prasarana. Mudah-mudahan, kata Nurdin, semua permasalahan PPDB 2019 ini selesai.
“Soal caranya, sementara ini ditambahlah ruang belajar lagi. Kalau soal ketersediaan guru, tidak masalah. Itu urusan pemerintah menyediakannya,” kata Nurdin Basirun, saat bertemu dengan para orang tua murid di Dataran Engku Putri, Batam Centre, Senin (8/7/2019) pagi.
Tampak hadir dalam pertemuan itu Wali Kota (Wako) Batam H Muhammad Rudi, Wakil Wali Kota (Wawako) Batam H Amsakar Ahmad, Sekdako Batam H Jefriden, Kadis Pendidikan Provinsi Kepri H Muhammad Dali, dan sejumlah kepala sekolah.
Nurdin, mantan Bupati Karimun, yang semula dijadwalkan harus berangkat ke Jakarta dengan penerbangan pukul 07.00 WIB, pada Senin itu harus menunda ke pukul 09.00 WIB, guna menghadiri pertemuan ini.
Kepada orang tua yang hadir, Nurdin Basirun meminta bertenang semua. Menurutnya, selalu ada solusi yang bisa diambil setiap ada permasalahan.
Soal penerimaan siswa dengan sistem zonasi ini memang merupakan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Tetapi Nurdin menegaskan ada kebijakan untuk menyelesaikan setiap persoalan yang muncul.
“Kalau ada masalah pendidikan, maafkan kami. Tapi setelah Pak Rudi (Wali Kota Batam) menelepon dan Kadisdik melapor tentang penerimaan siswa baru, pasti ada solusinya. Untuk rakyat, jiwa dan raga kita korbankan,” kata Nurdin Basirun.
Nurdin Basirun menyebutkan jumlah peserta yang semakin membludak ini menunjukkan Batam semakin maju. Semakin banyak orang beraktivitas di Batam untuk mencari rezeki apalagi Wali Kotanya membuat Batam semakin cantik.
Menurut Nurdin, pihaknya akan menambah jumlah SLTA di Batam. “Kalau untuk saat ini satu solusinya adalah dengan penambahan ruang baru, tahun depan rencananya ada penambahan sekolah baru,” ujar Nurdin.
Menurut Nurdin, ada empat wilayah prioritas pembangunan SLTA. Untuk Batam, ketersediaan lahan merupakan masalah tersendiri. Tetapi, kata Nurdin, Wali Kota sepertinya sudah menyiapkannya. “Ini seperti konektivitas hati. Rupanya Pak Rudi sudah menyiapkan,” kata Nurdin.
Untuk sekolah baru, Nurdin berharap dukungan masyarakat.
Misalnya, kalau warga memiliki lahan diminta untuk merelakannya demi pembangunan. Sebab, kata Nurdin, doa dan dukungan masyarakat membuat semua persoalan bisa diselesaikan.
Kepada Kadis Pendidikan Kepri, Nurdin berpesan agar segera diaplikasikan, terlebih untuk menampung mereka yang belum mendapatkan kepastian.
Kadis Dikbud Kepri H Muhammad Dali, mengatakan proses penerimaan dengan sistem zonasi merupakan perintah pemerintah pusat. Pihaknya mengikuti mekanisme tanpa ada kecurangan. Saat ini, kata Dali, ada 2.216 siswa yang belum mendapat tempat.
Dali meminta para orang tua bersabar, sebab ada tahapan yang akan mereka lakukan, dan lagi pula pada sekolah tertentu ada penumpukan siswa. Saat ini saja, di SMA Negeri 3 Batam, ada 523 siswa yang belum tertampung.
Penumpukan juga terjadi di SMA Negeri 23 Batam. Ada 500 siswa di SMA itu yang belum tertampung. Tapi ada solusi di sana, karena ada gedung yang bisa ditumpangi. Kepsek dan warga menjamin minimal lima lokal.
“Yang disampaikan Pak Gubernur adalah perintah. Kata kunci dari Pak Gubernur minimal 2 lokal. Dan ke dua, menyesuaikan dengan situasi,” kata Dali.
Tahap ke tiga, kata Dali, adalah bebas zonasi yang dibuat dalam sistem. Semula di Batam ada delapan zonasi dibagi menjadi empat. Dali menyarankan mereka yang menuju tempat sekolah jalur padat, bergeser ke zonasi sebelah yang barangkali jumlah di situ tak terlalu banyak.
“Misalnya di SMA Negeri 3 Batam ke SMA Negeri 15 yang memang kurang 70 siswa. Jika ditambah 2 lokal, jadi semakin ringan,” kata Dali, sambil menambahkan pihaknya ingin agar yang tak bisa diterima jadi bisa diterima.
Wako Batam HM Rudi SE, mengatakan sistem ini merupakan kebijakan Menteri. Namun, setelah diikuti, tidak bisa terpenuhi semuanya. Kebijakan ini sempurna, kata Rudi, kalau daerah punya uang yang cukup buat sekolah.
Editor: Amran