Home » Pendidikan » Guru di Indonesia Maunya Gaji Besar, Antikritik, Kualitas Rendah
Indra Charismiadji. foto jpnn

Guru di Indonesia Maunya Gaji Besar, Antikritik, Kualitas Rendah

SumatraTimes.co.id – Selama belasan tahun mutu pendidikan Indonesia stagnan walaupun telah dianggarkan insentif tambahan bagi para guru berupa Tunjangan Profesi Pendidik (TPG).

Ini tergambar dari hasil PISA (Programme for International Student Assessment) yang menempatkan Indonesia di rangking kedua terakhir atau dari bawah.

“Bagaimana bisa meningkat mutu pendidikan di Indonesia kalau kualitas gurunya juga rendah,” kata Pengamat dan Praktisi Pendidikan dari CERDAS (Center for Education Regulations & Development Analysis) Indra Charismiadji kepada JPNN.com, Selasa (12/5).

Indra menambahkan, kajian Bank Dunia menyebutkan tambahan insentif baru sebatas meningkatkan penghasilan pendidik tetapi tidak berdampak pada peningkatan kapasitas dan kualitas pendidik.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga pernah mengungkapkan, 60 persen anggaran pendidikan atau sekira Rp 304 triliun di tahun 2020, terserap untuk gaji dan tunjangan guru tetapi kualitas pendidikan Indonesia jauh di bawah negara tetangga seperti Vietnam.

Yang paling menyedihkan dari situasi ini menurut Indra, ternyata para pendidik di Indonesia sangat anti-kritik. Di dalam benak mereka menjadi guru artinya menjadi ‘yang mahabenar”.

Ungkapan seperti kacang lupa kulit, orang tidak tahu terima kasih atas jasa-jasa para guru, hanya sebatas komentator sepak bola saja yang hanya bisa memberi komentar tanpa bisa bermain bola, adalah kalimat yang biasa muncul dari para guru jika ada kritikan mengenai kapasitas dan kualitas mereka.

“Bagaimana bisa maju pendidikan kita kalau guru di Indonesia anti-kritik, maunya gaji besar, tetapi kualitasnya rendah. Ini juga pernah disampaikan Pak Jusuf Kalla saat masih menjabat wapres. Beliau heran, kalau diminta tingkatkan kualitas guru-gurunya diam. Giliran bicara soal kesejahteraan, semuanya riuh,” tutur Indra.

Indra mengibaratkan para tenaga pendidik seperti pemain sepak bola. Kalau pemainnya bagus, ada gol yang akan tercipta. Sebaliknya bila pemainnya asalan, yang ada malah gawangnya kebobolan terus.

“Saya tidak akan berhenti menjadi komentator sepak bola jika mereka (tenaga pendidik) mampu bermain sepak bola dengan baik,” ujarnya mengumpamakan.

Mungkin saatnya Indonesia memperlakukan para guru seperti para pemain sepak bola profesional. Sehingga semua guru bekerja berdasarkan kontrak alias tidak ada yang permanen, dan digaji sesuai dengan kapasitas, kualitas, dan kinerja.

“Saya sangat yakin negara tidak akan rugi jika memang ada guru yang layak dibayar Rp 100 miliar per bulan sama seperti Barcelona membayar pemain terhebatnya. Butuh perubahan radikal untuk membangun SDM unggul, toh ini ide dari para guru sendiri,” pungkasnya.***

Sumber: jpnn.com

x

Check Also

Dibuka, Pendaftaran Beasiswa di 8 Perguruan Tinggi BUMN 2020

SumatraTimes.co.id – Aliansi Perguruan Tinggi Badan Usaha Milik Negara (Aperti BUMN) resmi membuka jalur beasiswa ...