Home » Peristiwa, Kriminal & Hukum » PWI Sumut Kecam Pembunuhan Dua Wartawan Labuhan Batu
Korban dengan tangan putus di bacok

PWI Sumut Kecam Pembunuhan Dua Wartawan Labuhan Batu

Sumatratimes.com – Polisi belum mengungkap siapa pembunuh dua wartawan mingguan di Kabupaten Labuhan Batu, Maraden Sianipar, dan Martua P Siregar, yang ditemukan pada Rabu dan Kamis 30 – 31 Oktober 2019.

Persatuan Wartawan Indonesia Sumatera Utara (PWI Sumut) mengecam keras terhadap pelaku pembunuhan dua orang wartawan mingguan Pindo Merdeka di Labuhanbatu, Maraden Sianipar, warga Jalan Gajah Mada, Rantau Prapat, dan Martua P Siregar alias Sanjai, warga Sei Berombang, Kecamatan Panai Hilir, Labuhan Batu.

“PWI Sumut meminta Kapolri Jenderal Idham Azis dan Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto untuk memberikan perhatian khusus dalam penanganan kasus pembunuhan dua wartawan dari surat kabar mingguan (SKM) Pindo Merdeka,” ujar Ketua PWI Sumut, Hermansjah, Jumat (1/11/2019).

Maraden Sianipar dan Martua P Siregar ditemukan tewas di dalam sebuah parit, persisnya di belakang PT SAB/KSU Amelia di Dusun VI Desa Wonosari, Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara (Sumut), Rabu (30/10/2019) sore dan Kamis (31/10/2019). Kedua korban tewas dengan kondisi tubuh penuh luka bekas bacokan.

Didampingi Sekretaris PWI Sumut, Edward Thahir dan Ketua Pembela Wartawan PWI Sumut Wilfried Sinaga, Hermansjah mengungkapkan, sebagaimana amanat Undang Undang No 40 Tahun 1999 tentang Pers, bahwa wartawan dalam bertugas menjalankan profesinya dilindungi undang undang, sehingga wajib dilindungi.

“Aparat kepolisian setingkat Kapolsek, Kapolres, Kapolda sampai ke Kapolri, wajib untuk melindungi wartawan dari kejahatan sebagaimana dialami Maratua P Siregar dan Raden Sianipar. Kedua wartawan ini tewas mengenaskan dengan luka bacokan di sekujur tubuhnya. Kekerasan terhadap pers ini tidak dibenarkan,” tegasnya.

Menurutnya, siapapun pelaku dan aktor di balik kasus pembunuhan dua wartawan tersebut harus dihukum berat, karena bagaimanapun kekerasan terhadap pers tidak dibenarkan dan merupakan pelanggaran berat. Jika masyarakat tidak puas terhadap pemberitaan wartawan bisa menyanggahnya melalui ketentuan hak jawab sebagaimana diatur UU No 40 Tahun 1999 tentang pers.

“Adanya kasus pembunuhan ini membuktikan sekaligus menunjukkan indikasi bahwa wartawan dalam bertugas penuh resiko dan ancaman bahaya sehingga PWI Sumut secara khusus meminta agar wartawan dalam bertugas lebih memperhatikan keselamatan jiwanya dari pada liputan berita. Sembari mengingatkan wartawan baik anggota maupun non anggota PWI Sumut agar saat memilih profesi menjadi wartawan benar benar serius menjalani profesi mulia ini, tanpa diembeli kepentingan pribadi apalagi sebagai LSM (lembaga swadaya masyarakat),” sebutnya.

Kapolsek Panai Ilir, AKP Budiarto menceritakan, polisi menemukan jenazah korban pembunuhan ini berawal dari adanya laporan Burhan Nasution. Burhan merupakan rekan dari Maraden Sianipar. Burhan menyampaikan bahwa sepeda motornya dipinjam Maraden, Selasa (29/10/2019) sore.

Namun, sampai keesokan harinya, Maraden juga belum kelihatan. Burhan Nasution mengaku merasa khawatir karena tidak menemukan rekannya itu. Kepada polisi, Burhan menyampaikan bahwa Maraden pergi dengan berboncengan bersama Martua P Siregar.

“Anggota kemudian melakukan penyelidikan dengan menelusuri arah perjalanan korban. Polisi kemudian menemukan Maraden dalam kondisi sudah tidak bernyawa di dalam sebuah parit. Jenazah korban langsung dievakuasi ke Puskesmas Sei Berombang di Kecamatan Panai Hilir,” jelasnya.

Peristiwa itu pun semakin menggegerkan ketika polisi kembali menemukan Martua Siregar dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Martua Siregar ditemukan tewas dalam kondisi tubuh penuh luka bekas bacokan dan tusukan senjata tajam. Petugas pun mengevakuasi jenazah korban.

Ketua LSM Lembaga Pemantau Independen Asset Negara (LIPAN), Syamsul Sitepu, yang merupakan rekan dari kedua korban mengungkapkan, pembantaian terhadap kedua wartawan ini diduga berkaitan dengan pemberitaan. Sebab, kedua wartawan itu menyoroti masalah sengketa lahan.

“Ada sengketa lahan yang berujung pada pertikaian antara PT SAB/KSU Amelia. Lahan itu sudah dieksekusi oleh dinas kehutanan. Kedua rekan saya itu sangat getol menyoroti masalah sengketa lahan tersebut. Masalah ini mungkin bisa menjadi masukan ke pihak kepolisian untuk melakukan penyelidikan,” sebutnya. (sumber: BeritaSatu.com)

 

Redaksi: Amran

x

Check Also

Api Melalap Rumah Warga Padat Penduduk

PANIPAHAN, sumatratimes.co.id- Kota yang dikenal diatas Air, Panipahan membara. Hal ini disebabkan kebakaran terjadi di ...